mfajri.net

Blog Urang Banua Barrau

Rayakan Ultah Ke-97 Usmar Ismail, Google Pasang Doodle-nya

Kalau kawan-kawan hobby nonton idol-idol atau lomba-lomba nyanyi di Tivi, mungkin nama ini familiar di telinga kawan-kawan. Usmar Ismail menjadi salah satu gedung (Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail) yang lokasinya ada di kawasan Jl H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan yang sering juga digunakan sebagai gedung pertunjukan.

Kami kutip dari wikipedia, Usmar Ismail (lahir 20 Maret 1921 – meninggal 2 Januari 1971 pada umur 49 tahun) adalah seorang sastrawan dan sutradara film Indonesia. Ia dianggap sebagai warga pribumi pelopor perfilman di Indonesia. Usmar meninggal dunia karena stroke.

Oh iya, sebelum jauh mengenal Usmar Ismail, mungkin sebagian kawan-kawan ada yang tertanya-tanya apa itu ‘Doodle‘ atau ‘Google Doodle‘.

doodle-usmar-ismailSecara harfiah doodle dapat diartikan sebagai kegiatan mencorat-coret atau menggambar tanpa tujuan atau bentuk, gambar, dll, yang dibuat tanpa tujuan, namun dalam kenyataanya Goole Doodle mengandung makna yang dalam untuk menghormati berbagai negara dan tokoh-tokoh besar dunia lainnya.

Google Doodle adalah logo-logo Google yang dimodifikasi sedemikian rupa yang ditampilkan pada saat ada peringatan atau event tertentu pada setiap negara yang support Google. Sudah sejak cukup lama koleksi google doodle yang dimiliki Google sendiri mulai diadakan.

Selain dirancang oleh tim doodle, Google juga menyelenggarakan kompetisi yang menarik untuk mendorong anak-anak dan siswa untuk menciptakan Doodles Google. Pada gambar di bawah ini, seorang anak 9 tahun dari India, beranama Puru Pratap Singh memenangkan Doodle untuk Google 2009. Untuk tahun 2011. Kompetisi Doodle 4 Google untuk kategori Grades K-3 dan untuk juara nasional dimenangkan oleh Matteo Lopez, National Winner, Grade 2, Monte Verde Elementary School-South San Francisco, CA. Demikian info yang saya rangkum dari wikipedia.org.

Nah kembali ke Usmar Ismail ini, ia merupakan sosok yang berpengaruh di industri film Indonesia. Bapak Film Nasional, begitu panggilan kerennya. Sepanjang kariernya ia sudah menggarap lebih dari 30 film di Tanah Air.

Salah satu karyanya yang begitu fenomenal di jagat sinema lokal adalah film dengan judul Darah dan Doa (The Long March of Siliwangi, 1950). Darah dan Doa merupakan adaptasi dari cerita pendek karya Sitor Situmorang. Kisah ini menceritakan Sudarto, seorang guru yang terseret revolusi fisik dalam periode perpindahan TNI dari Yogayakarta ke Jawa Barat pada 1948. Film ini bahkan disebut sebagai tonggak hidupnya industri film Indonesia. Berkat film ini Presiden B.J. Habibie dengan Dewan Film Nasional menetapkan Hari Film Nasional berdasarkan hari pertama syuting Darah dan Doa.

Semasa mudanya Usmar aktif menjadi pengurus lembaga teater dan film. Ia juga aktif menjadi ketua Badan Permusyawaratan Kebudayaan Yogyakarta (1946-1948), ketua Serikat Artis Sandiwara Yogyakarta (1946-1948), ketua Akademi Teater Nasional Indonesia, Jakarta (1955-1965), dan ketua Badan Musyawarah Perfilman Nasional (BMPN).

Semasa kariernya, Usmar juga mendapatkan penghargaan bergengsi Piala Citra. Filmnya berjudul Djam Malam dan Tamu Agung (1955) juga mendapatkan penghargaan Film Komedi Terbaik.

Dalam film Tamu Agung, Usmar menyampaikan kritik sosial dan politik dan ingin mengaitkannya dengan masyarakat. Di film itu juga, Usmar ingin menyampaikan asas demokrasi soal kepentingan berbicara, berpikir, serta berpendapat.

Bagi Artikel Ini Ke:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Comments

comments

mfajri.net sejak 2008